Sunday, March 2, 2014

Seperti seorang wanita

wanita itu rumit. Anzala menjadikan tiga kata itu sebagai ide pokok untuk paragraf pertama di blognya pagi ini. Mungkin dia benar. Anzala selalu berpikir bahwa laki-laki itu ada untuk memahami kerumitan itu. Simpel. She cries, a man does his job. She hurt, a man takes responsibility. Tak dapat dipungkiri, Anzala merasakan dinamika itu sejak lama. Mungkin itu juga yang membuatnya lebih merasa berhati luas.

Anzala selalu berpikir apakah semua laki-laki seperti dirinya? Laki-laki yang pada awalnya hanya punya beberapa persen porsi untuk gadisnya yang perlahan-lahan menjadi keseluruhan porsi kehidupannya. Anzala bertanya-tanya apakah jalan seorang laki-laki memang seperti itu? Anzala sendiri bingung itu positif atau negatif. But he have God. Its just an effort. At least saat ini ia jadi laki-laki yang mungkin paling sabar di dunia. Dunia yang penuh kerumitan, ya, seperti seorang wanita. Ia pun tertawa.

No comments:

Post a Comment