wanita itu rumit. Anzala menjadikan tiga kata itu sebagai ide pokok untuk paragraf pertama di blognya pagi ini. Mungkin dia benar. Anzala selalu berpikir bahwa laki-laki itu ada untuk memahami kerumitan itu. Simpel. She cries, a man does his job. She hurt, a man takes responsibility. Tak dapat dipungkiri, Anzala merasakan dinamika itu sejak lama. Mungkin itu juga yang membuatnya lebih merasa berhati luas.
Anzala selalu berpikir apakah semua laki-laki seperti dirinya? Laki-laki yang pada awalnya hanya punya beberapa persen porsi untuk gadisnya yang perlahan-lahan menjadi keseluruhan porsi kehidupannya. Anzala bertanya-tanya apakah jalan seorang laki-laki memang seperti itu? Anzala sendiri bingung itu positif atau negatif. But he have God. Its just an effort. At least saat ini ia jadi laki-laki yang mungkin paling sabar di dunia. Dunia yang penuh kerumitan, ya, seperti seorang wanita. Ia pun tertawa.
No comments:
Post a Comment