Monday, September 21, 2015

Ngaji Sejarah Dunia, Tadi Malam dengan Pak Mughits


Ngaji Ma'had Aly tadi malam cukup menarik. Dosen kelas yang berhalangan hadir membuat kami mahasiswa semester satu Ma'had Aly PPWH dipersilahkan bergabung dengan kelas semester lima. Matakuliahnya adalah, Fiqh Siyasah (Fiqh Politik).

Matakuliah ini diampu oleh Pak Abdul Mughits, seorang dosen Ilmu Falak dan Bahasa Arab, serta disiplin ilmu lain yang saya tidak tahu seluruhnya. Kesan pertama cukup membuat saya menyimpulkan bahwa beliau adalah orang yang berwawasan luas. Terlihat bagaimana cara beliau menggambarkan situasi Arab pada masa lalu. Jelas, detil, dan begitu memahami.

Pelajaran kami melanglangbuana ke seluruh dunia. Masa Rasulullah SAW, masa kekhalifahan, tragedi Karbala, kekacauan bangsa Arab saat ini, ISIS, G-30 S/PKI, dan peristiwa bersejarah lainnya. Beliau menjelaskan bagaimana situasi Arab pasca wafatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Berbagai kebijakan-kebijakan yang diambil pada masa itu, intrik-intrik politik yang terjadi, sampai pada konflik peperangan-peperangan yang memecah belah kaum muslimin digambarkannya dengan unik.



Beberapa poin yang beliau tekankan dalam kuliahnya malam ini adalah betapa Arab saat ini sedang diobrak-abrik oleh berbagai kepentingan di dunia. Saya pun menyadari bahwa hal ini tak dapat dipisahkan dari latar belakang kelam bangsa Arab yang memang sudah penuh konflik dan mudah disulut dengan isu-isu kacang goreng yang dihembuskan oleh, beliau menyebutnya "barat". 

Kuliah kami berujung pada kelayakan dan ketidaklayakan sistem negara Islam diterapkan di Indonesia. Beliau mengkritisi sikap beberapa pihak yang getol menyuarakan agar bangsa Indonesia kembali ke sistem khilafah yang menurutnya tidak logis. Jiki dilihat dengan baik, bangsa Arab saat ini pun diobrak-abrik oleh kepentingan asing karena bertahannya sistem khilafah yang cenderung akan membawa pemimpinnya pada kediktatoran. Irak, Libya, Mesir, dan Yaman merupakan contoh negara yang pemerintahannya digulingkan lewat isu demokratisasi. Apakah Indonesia akan ikut-ikutan?

Satu hal yang unik yang beliau utarakan adalah, selama di Indonesia masih ada NU dan Muhammadiyah, insyaAllah Indonesia akan aman. Kedua organisasi ini "mengayem-ayemi" umatnya yang besar untuk selalu rukun dan moderat serta saling menghargai. Beliau juga menyeletuk, bahwa selama Indonesia masih konsumtif dengan membeli produk-produk "barat" maka Indonesia juga akan aman karena negara-negara penyuplai akan terus hidup dengan ke-konsumtif-an bangsa kita (ini menyindir, lho).

Meskipun kuliah molor setengah jam, saya tidak menyesal bergabung dengan kuliahnya santri semester lima. Saya selalu suka sejarah. Sejarah mengajarkan saya bahwa masa lalu adalah warisan yang sampai kapanpun tak akan pernah habis untuk ditafsirkan, ditelisik kebenarannya, serta dipahami dengan bijak. Bukankah Ir. Soekarno pun meminta kita untuk "Jas Merah"? Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Semoga bermanfaat :)

No comments:

Post a Comment